Review Pendek Film Kuntilanak 2 2019

0
458

Tanah air kembali diberikan hiburan film horor pada tahun 2019 ini. Ya, sutradara Rizal Mantovani merilis lagi film horor yang siap meramaikan perfilman tanah air, kali ini dengan film Kuntilanak 2. Bisa dikatakan ini jadi sekuel dari film Kuntilanak yang telah tayang sebelumnya di tahun lalu. Pada film sebelumnya, Dinda yang diperankan oleh Sandrinna Skornicki dan ditemani oleh empat saudaranya telah berhasil mengunci makhluk halus kuntilanak yang tinggal didalam cermin antik di dalam rumah mereka. Namun mereka sadar bahwa terror dari kuntilanak tersebut belum berakhir.

Di kuntilanak 2 ini sosok karakter antagonis utamanya adalah mahluk halus tersebut yang masih menjadi sebuah mitos masyarakat sekitar. Umumnya jika kuntilanak datang pasti akan membawa kejutan yang menegangkan dan sangat mengerikan, namun sangat berbeda dari karakter mahluk halus yang satu ini karena akan membuat Anda simpati. Pada kuntilanak (2018) lalu, kita tahu bahwa endingnya adalah bahagia. Namun tidak dijelaskan disana apakah kuntilanak tersebut telah pergi dan musnah. Nah itulah yang menjadi jawabannya sekarang dengan hadirnya sekuel ini.

Review Film Kuntilanak 2

Menguji persaudaraan dan menegangkan

Hampir sama pada setiap film horor pasti hadir dengan suasana mistisnya, di kuntilanak 2 ini dibuka dengan adegan sosok pria paruh baya yang sedang membacakan mantra dalam sebuah gua di ruang bawah tanah. Fokus ini akan ditujukan pada sebuah topeng yang berada di atas gua tersebut. Anda sebagai penonton akan langsung secara tidak sadar mengingat symbol tersebut. Ya symbol itu adalah topeng (yang merupakan patung kepala) dan ini sama yang ada di dalam cermin pada film sebelumnya. Pria paruh baya tersebutlah yang kembali lepaskan kuntilanak ini. Dinda terlihat sedang mencari Ambar (Ciara Nadine Brosnan) di sebuah pasar malam. Namun Ambar sedang tertidur di wahana kincir angin seorang diri, dan dia sempat menjadi incaran utama kuntilanak. Dalam keceriaan dan keramaian pada pasar malam tersebut, sosok hantu kuntilanak yang mengincar Ambar menjadi pembuka terror dalam film ini.

Ibu kandung Dinda hadir disini dan datang menemuinya, hal ini telah menggetarkan hati Dinda. Melihat ibunya Dinda mempunyai tekad untuk pergi menemuinya, dan ditemani oleh saudaranya serta Julia (Susan Sameh) dan juga Edwin (Maxime Bouttier). Dinda yang bertemu ibunya, Karmila (Karina Suwandi), sangat senang karena ini adalah momen yang dinantikan dalam hidupnya. Saat melihat kegembiraan ini, Ambar merasa cemburu dan perlahan memperlihatkan ketidaksukaannya pada Dinda. Di sini, karmila menyimpan banyak misteri yang perlahan mulai terbongkar. Saat waktunya telah datang, Dinda dipojokkan pada pilihan, untuk memilih siapa yang harus di perjuangkan.

Sangat menghibur dan sama seperti film pertama

Sekuel kuntilanak 2 ini tetap mempunyai aura yang menghibur dan masih sama seperti film sebelumnya. Penyampaian bahasa dari setiap karakter pemainnya masih sangat terasa, termasuk pada peran anak-anak disini. Tidak hanya itu, aksi tontonan horor yang ditayangkan dalam film ini masih terlihat menegangkan. Namun ini masih dibatasi kengeriannya bagi seorang anak-anak. Dari awal film, sudah terlihat dalam pemilihan karakter setiap pemainnya yang dipilih dengan cerdas. Panji (Adlu Fahrezy)  dan Kresna (Andryan Bima) mereka berdua terlihat akur serta asyik bermain, sedangkan untuk Miko (Ali Fikry) lebih cenderung terhadap hal-hal yang berbau mistis. Pada adegan ini bisa dikatakan mengajak kita untuk menyegarkan ingatan kembali dan menjadi kedekatan lagi dengan para karakter utama dalam film ini.

Dalam film ini mengenalkan dua pemain baru, yakni Edwin dan Julia. Namun sangat disayangkan, pada pengenalan dua karakter pemain ini terlihat kurang, terlebih pada sosok Julia yang terbilang standar sebagai seorang kakak yang terlihat peduli pada adik-adiknya. Sedangkan pada karakter Edwin dihadirkan untuk penyegar suasana yakni sebagai pacar Julia. Kedua pemain ini dimaksudkan untuk menggantikan peran Glenn dan Lydia yang tidak dimunculkan dalam film ini. Meskipun ini merupakan sebuah film anak-anak, tetapi tetap diproduksi oleh orang dewasa. Hal tersebutlah yang kadang menjadi masalah besar, karena film-film ini tidak menampilkan sepenuhnya gambaran seorang anak-anak. Karena beberapa bagian yang ada didalam film ini sangat jelas terlihat jika bukan film fantasi anak-anak, tetapi lebih cenderung pada fantasi orang dewasa yang menggambarkan sikap apa yang seharusnya anak-anak lakukan jika dalam situasi tersebut.

Fokus efek CGI pada detail cerita

Sangat berbeda dari film sebelumnya, karena pada film ini sangat memperhatikan detail cerita. Bisa kami katakan disini bahwa, sekuel film ini terkesan fokus pada hal besar saja. Masih terlihat sangat banyak detail yang terlupakan untuk dieksplor, jadi sekuel film ini masih terkesan lemah pada hal penceritaannya. Berbicara pada sinematografinya, Rizal kali ini dapat menampilkan dengan epik. Sekarang hadir dengan tone warna kehijauan, selain pemilihan warna gelap. Dalam suasana klenik yang ada di film ini juga tampak lebih menonjol dari sebelumnya. Unsur mistis yang ada dalam film ini ambil dari kisah pesugihan. Jadi tidak dapat Anda tolak, ada banyak nada ketegangan yang disajikan dan ini akan terasa mencekam. Karena mengambil dari sudut gambar yang sempit dan lebih fokus. Hal tersebut dimaksudkan untuk menyembunyikan momen terbaik hingga masuk pada waktunya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here